Sirkum Massal: Sembilan Belas Cerita dari Kutai Kartanegara
Pagi itu, langit Kutai Kartanegara belum sepenuhnya cerah. Awan tipis menggantung pelan, seolah ikut menahan napas menyambut sebuah peristiwa kecil namun bermakna besar bagi banyak keluarga. Di halaman tempat kegiatan berlangsung, spanduk sederhana terbentang: Sirkum Massal — hasil kerja sama PPNI Kutai Kartanegara dan PC Dharma Wanita Kutai Kartanegara.
Satu per satu anak datang bersama orang tua mereka. Ada yang melangkah mantap, ada pula yang menggenggam tangan ibunya erat-erat, matanya menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu bercampur cemas. Jumlah mereka tak banyak—19 anak—namun pagi itu, setiap wajah membawa cerita dan harapan masing-masing.
Di balik meja registrasi, para perawat PPNI bekerja dengan senyum yang menenangkan. Seragam mereka rapi, gerakannya sigap namun penuh kehati-hatian. Sesekali mereka menunduk sejajar dengan tinggi badan anak-anak, mengajak berbincang ringan, menanyakan nama, sekolah, atau hobi favorit. Tawa kecil pun mulai pecah, mencairkan ketegangan yang sejak tadi menggantung.
Tak jauh dari sana, para ibu dari PC Dharma Wanita Kutai Kartanegara bergerak senyap namun pasti. Mereka menyiapkan konsumsi, membagikan bingkisan kecil, dan sesekali mengusap bahu orang tua yang tampak gelisah. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap acara, melainkan penopang suasana—memberi rasa hangat bahwa kegiatan ini dilakukan dengan hati.
Saat proses sirkum dimulai, ruangan menjadi lebih tenang. Tangis sempat terdengar, namun tak lama. Tangan-tangan terampil para perawat bekerja cepat dan profesional. Setiap tindakan dilakukan dengan kehati-hatian, seolah mereka memahami bahwa yang dihadapi bukan sekadar prosedur medis, melainkan momen penting dalam perjalanan tumbuh seorang anak.
Di luar ruangan, para orang tua menunggu. Ada yang berdoa dalam diam, ada yang berbagi cerita, ada pula yang tersenyum kecil ketika mendengar anaknya memanggil dari dalam. Waktu berjalan pelan, namun penuh makna.
Satu per satu, anak-anak keluar. Wajah mereka beragam—ada yang masih meringis, ada yang tampak bangga karena telah “menjadi pemberani”. Mereka menerima bingkisan, disambut pelukan orang tua, dan difoto bersama sebagai kenang-kenangan. Tangis berganti senyum, cemas berubah lega.
Menjelang siang, kegiatan itu usai. Sembilan belas anak telah melalui satu fase penting dalam hidup mereka. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya angka. Namun bagi PPNI Kutai Kartanegara dan PC Dharma Wanita Kutai Kartanegara, angka itu adalah sembilan belas cerita, sembilan belas keberanian, dan sembilan belas harapan akan generasi yang lebih sehat.
Hari itu, di sudut Kutai Kartanegara, sebuah kolaborasi sederhana telah menorehkan makna besar. Bukan hanya tentang sirkum massal, melainkan tentang kepedulian, pengabdian, dan cinta yang bekerja bersama—tanpa banyak sorot, namun terasa hingga ke hati.

